Latest News

Showing posts with label Berita Katolik. Show all posts
Showing posts with label Berita Katolik. Show all posts

Wednesday, July 2, 2014

Mgr. Agus (Uskup Agung Pontianak) Menerima Pallium dari Paus Fransiskus

Pada Hari Raya St. Petrus dan Paulus, Gereja memiliki tradisi dimana pada hari tersebut para Uskup yang telah dipilih secara langsung oleh Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung Metropolitan, menerimakan Pallium di Basilika St. Petrus, Vatikan. Berikut adalah daftar nama yang berjumlah 27 orang, yang terdiri dari 24 Uskup Agung yang menerima Pallium dan tiga orang lainnya tidak menghadiri: 

1. Mgr. Victor Henry THAKUR, Uskup Agung Raipur (India)
2. Mgr. Jos� Rafael Quiros, Uskup Agung San Jos� de Costa Rica (Costa Rica)
3. Mgr. Giuseppe Fiorini Morosini, OM, Uskup Agung dari wilayah Calabria-Bova (Italia)
4. Mgr. Leo W. CUSHLEY, Uskup Agung Saint Andrews dan Edinburgh (Skotlandia)
5. Mgr. Jaime Spengler, OFM, Uskup Agung Porto Alegre (Brazil)
6. Mgr. Jean-Luc BOUILLERET, Uskup Agung Besan�on (Prancis)
7. Mgr. Leonard Paul BLAIR, Uskup Agung Hartford (USA)
8. Mgr. Gabriel 'Leke ABEGUNRIN, Uskup Agung Ibadan (Nigeria)
9. Mgr. Sebastian Francis SHAW, OFM, Uskup Agung Lahore (Pakistan)
10. Mgr. Franz Lackner, OFM, Uskup Agung Salzburg (Austria)
11. Mgr. Thomas Luke MSUSA, SMM, Uskup Agung Blantyre (Malawi)
12. Mgr. Benjamin Marc Balthason Ramaroson, CM, Uskup Agung Antsiranana (Madagaskar)
13. Mgr. Ren� Osvaldo Rebolledo SALINAS, Uskup Agung La Serena (Chile)
14. Mgr. Marlo M. PERALTA, Uskup Agung Nueva Segovia (Filipina)
15. Mgr. Emmanuel OBBO, Uskup Agung Tororo (Uganda)
16. Mgr. Daniel Fernando Sturla BERHOUET, SDB, Uskup Agung Montevideo (Uruguay)
17. Mgr. Marco Arnolfo, Uskup Agung Vercelli (Italia)
18. Mgr. Damian Denis DALLU, Uskup Agung Songea (Tanzania)
19. Mgr. Romulo T. DE LA CRUZ, Uskup Agung Zamboanga (Filipina)
20. Mgr. Malcolm Patrick McMahon, OP, Uskup Agung Liverpool (Inggris)
21. Mgr. Paul bui VN OC, Uskup Agung Thanh-Pho Ho Chi Minh, HoChiMinh Ville (Vietnam)
22. Mgr. Wojciech POLAK, Uskup Agung Gniezno (Polandia)
23. Mgr. Jos� Luiz Majella DELGADO, C.SS.R., Uskup Agung Pouso Alegre (Brazil)
24. Msgr. Agustinus AGUS, Uskup Agung Pontianak (Indonesia)

Uskup Agung yang tidak hadir pada upacara tersebut:
25. Mgr. Tarcisius Gervazio ZIYAYE, Uskup Agung Lilongwe (Malawi)
26. Mgr. Nicholas MANG THANG, Uskup Agung Mandalay (Burma)
27. Mgr. Stephan BURGER, Uskup Agung Freiburg im Breisgau (Jerman)

Salah satu yang menarik dari penerimaan Pallium pada tahun 29 Juni 2014 adalah, Mgr. Agustinus Agus. Pr mendapatkan kesempatan untuk menerima Pallium dari tangan Paus Fransiskus sendiri. Berikut adalah foto dari Mgr. Agustinus Agus. Pr yang menerima Pallium dari Paus Fransiskus:


Catatan:
Pallium adalah busana liturgi yang dipakai diluar kasula dan hanya dipakai oleh Uskup Agung Metropolitan. Pallium terbuat dari bulu domba, yang sesuai tradisi gereja diberkati oleh Paus pada Peringatan Santa Agnes (21 Januari). Kemudian domba ini dicukur bulunya untuk ditenun pada Hari Raya Kamis Putih, yang memiliki makna bahwa Kristus adalah anak domba Allah yang sejati, seorang gembala yang rela memberikan nyawa bagi domba-domba-Nya, yang kepada Petrus-lah Kristus menyerahkan domba - domba-Nya untuk digembalakan.

Silahkan juga baca berita pengangkatan Mgr. Agustinus Agus. Pr menjadi Uskup Agung Pontianak, disini (klik link)

Dominus illuminatio mea!

Friday, June 6, 2014

Deklarasi Umum Paus Fransiskus dan Patriarkh Ekumenis Bartholomeus I


(Radio Vatikan) Paus Fransiskus dan Patriarkh Ekumenis, Bartholomeus I, pada hari Minggu mengadakan pembicaraan pribadi di Yerusalem, dan menandatangani deklarasi umum dimana mereka berjanji untuk melanjutkan jalan menuju persatuan antara Gereja Katolik dan Ortodoks. Pertemuan mereka menandai ulang tahun ke-50 dari pertemuan bersejarah antara Paus Paulus VI dan Patriarkh Athenagoras tahun 1964 yang lalu. Dalam deklarasi bersama mereka, Paus Fransiskus dan Patriarkh Bartholomeus mengatakan itu adalah tugas mereka untuk bekerja sama, untuk melindungi martabat manusia dan keluarga dan membangun masyarakat manusiawi di mana tidak ada yang merasa dikecualikan. Mereka juga menekankan, perlunya untuk menjaga ciptaan Allah dan hak kebebasan beragama . Kedua pemimpin ini menyatakan, keprihatinan atas situasi yang dihadapi orang-orang Kristen di tengah konflik di Timur Tengah, dan sekaligus juga berbicara tentang urgensi jam yang memaksa mereka untuk mencari rekonsiliasi, dan persatuan umat manusia yang menghormati sepenuhnya perbedaan yang telah ada.

Berikut adalah teks terjemahan bahasa Indonesia tidak resmi, yang diterjemahkan oleh blog Katolisitas Indonesia dari news.va yang berisikan �Deklarasi Umum Paus Fransiskus dan Patriarkh Ekumenis Bartholomeus I":

1. Seperti pendahulu kita yang terhormat, yaitu Paus Paulus VI dan Patriark Ekumenis Athenagoras yang bertemu di sini, di Yerusalem lima puluh tahun yang lalu. Kami juga, Paus Fransiskus dan Patriarkh Ekumenis Bartolomeus, bertekad untuk bertemu di Tanah Suci di mana Penebus kita, Kristus Tuhan kita hidup, mengajar, wafat , bangkit kembali, dan naik ke surga, dimana Ia mengutus Roh Kudus di Gereja bayi" (communiqu� umum Paus Paulus VI dan Patriarkh Athenagoras, diterbitkan setelah pertemuan mereka pada 6 Januari 1964). Pertemuan kami  merupakan salah pertemuan dari Uskup Gereja Roma dan Konstantinopel yang didirikan masing-masing oleh dua saudara, yaitu Rasul Petrus dan Andreas, hal ini jelas merupakan sumber sukacita rohani yang mendalam bagi kita. Ini menghadirkan kesempatan takdir untuk merefleksikan kedalaman dan otentisitas ikatan yang ada pada kami, yang merupakan buah dari sebuah perjalanan penuh rahmat, yang dimana Tuhan telah membimbing kami sejak hari terberkati lima puluh tahun yang lalu.

2 . Pertemuan persaudaraan kita hari ini, merupakan langkah baru dan begitu diperlukan pada perjalanan menuju kesatuan, yang hanya Roh Kuduslah dapat memimpin kita, dalam persekutuan keragaman yang sah . Kami menyerukan kedalam benak dengan rasa syukur yang mendalam, langkah-langkah yang Tuhan telah mungkinkan bagi kita untuk dilakukan. Pelukan yang saling bertukar antara Paus Paulus VI dan Patriarkh Athenagoras disini di Yerusalem, setelah berabad-abad membisu, membentangkan sebuah jalan bagi gerakan yang penting, penghapusan dari memori dan dari tengah-tengah Gereja tindakan saling ekskomunikasi pada tahun 1054. Ini diikuti oleh pertukaran kunjungan masing-masing antara Melihat Roma dan Konstantinopel, melalui korespondensi reguler dan, kemudian, dengan keputusan yang diumumkan oleh Paus Yohanes Paulus II dan Patriark Dimitrios, kedua memori terberkati, untuk memulai dialog teologis kebenaran antara Katolik dan Ortodoks. Selama tahun-tahun ini, Allah, sumber segala damai dan kasih, telah mengajarkan kita untuk menganggap satu sama lain sebagai anggota dari keluarga Kristen yang sama, di bawah satu Tuhan dan Juruselamat, Yesus Kristus, dan untuk saling mengasihi satu sama lain, sehingga kita mampu saling mengakui iman kita dalam Injil Kristus yang sama, seperti yang diterima oleh para Rasul dan diekspresikan dan diwariskan kepada kita oleh Dewan Ekumenis dan Bapa Gereja. Sementara dengan sepenuhnya sadar, tidak mencapai tujuan persekutuan penuh, hari ini kami mengkonfirmasi komitmen kami untuk terus berjalan bersama, menuju kesatuan yang Kristus Tuhan kita doakan kepada Bapa sehingga "semuanya menjadi satu" ( Yoh 17:21).

3 . Menyadari bahwa persatuan diwujudkan dalam kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama, kami menantikan antisipasi semangat untuk hari di mana kita akhirnya akan mengambil bagian bersama dalam perjamuan Ekaristi. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mempersiapkan diri dalam menerima karunia komuni Ekaristi, sesuai dengan ajaran Santo Irenaeus dari Lyon (Against Heresies, IV, 18, 5, PG 7, 1028), melalui pengakuan dari satu iman, ketekunan doa, pertobatan batin, pembaharuan kehidupan dan dialog persaudaraan. Demi meraih harapan untuk tujuan, kami akan memanifestasi kepada dunia, kasih Allah yang kita diakui sebagai murid-murid Yesus Kristus yang sejati (bdk. Yoh 13:35).

4. Untuk tujuan ini, dialog teologis yang dilakukan oleh Joint International Commission menawarkan kontribusi mendasar untuk menemukan persekutuan penuh antara Katolik dan Ortodoks. Sepanjang waktu berikutnya, Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI, dan Patriarkh Dimitrios, kemajuan pertemuan teologis kami telah substansial. Hari ini, kami menyampaikan penghargaan yang tulus untuk prestasi sampai saat ini, serta untuk usaha saat ini. Ini bukan latihan teoritis belaka, tapi latihan dalam kebenaran dan kasih yang menuntut pengetahuan yang lebih dalam, tradisi masing-masing dalam rangka untuk memahami mereka dan belajar dari mereka. Dengan demikian, kami menegaskan sekali lagi bahwa dialog teologis tidak mencari denominator yang rendah dalam hal teologis, untuk mencapai kompromi, tetapi lebih tentang memperdalam pemahaman seseorang, tentang seluruh kebenaran bahwa Kristus telah diberikan kepada Gereja-Nya, kebenaran yang kita, tidak pernah berhenti memahami dengan lebih baik karena kita mengikuti bisikan Roh Kudus. Oleh karena itu, kami menegaskan bersama bahwa kesetiaan kita kepada Tuhan, menuntut pertemuan persaudaraan dan dialog sejati. Tujuan bersama tidak membawa kita jauh dari kebenaran; agak, melewati pertukaran karunia, melalui bimbingan Roh Kudus, itu akan membawa kita ke dalam seluruh kebenaran (bdk. Yoh 16:13).

5. Namun bahkan, ketika kami melakukan perjalanan ini menuju persekutuan penuh, kita sudah memiliki tugas untuk menawarkan saksi umum, untuk kasih Allah bagi semua orang dengan bekerja bersama-sama dalam pelayanan kemanusiaan, terutama dalam membela martabat pribadi manusia pada setiap tahap hidup dan kesucian keluarga berdasarkan perkawinan, dalam mempromosikan perdamaian dan kebaikan bersama, dan dalam menanggapi penderitaan yang terus menimpa dunia kita. Kita mengakui bahwa kelaparan, kemiskinan, buta huruf, distribusi adil sumber daya; harus terus dibenahi. Merupakan tugas kita untuk membangun bersama-sama masyarakat adil dan manusiawi di mana tidak ada yang merasa dikucilkan atau di emarginasi.

6. Ini adalah keyakinan yang mendalam bagi kita, bahwa masa depan umat manusia juga tergantung pada bagaimana kita menjaga � dengan hati-hati dan penuh kasih, dengan keadilan dan kejujuran - karunia penciptaan bahwa Pencipta kita telah mempercayakan kepada kita . Oleh karena itu, kita mengakui dalam pertobatan, penganiayaan yang salah kepada planet kita, yang sama saja dengan dosa di hadapan mata Allah. Kami menegaskan kembali tanggung jawab dan kewajiban, untuk menumbuhkan rasa kerendahan hati dan moderasi, sehingga semua mungkin merasa perlu untuk menghormati dan untuk menjaga ciptaan dengan hati-hati. Bersama-sama, kami menjanjikan komitmen kami untuk meningkatkan kesadaran tentang penatalayanan penciptaan; kami menghimbau kepada semua orang niat baik untuk mempertimbangkan cara-cara hidup yang mengurangi pemborosan dan lebih sederhana, mewujudkan pengurangan keserakahan dan lebih murah hati untuk melindungi dunia milik Allah dan kepentingan umat-Nya.

7. Ada juga kebutuhan mendesak untuk keefektifan dan komitmen kerja sama Kristiani, dalam rangka untuk menjaga di manapun, hak untuk mengekspresikan iman publik seseorang dan diperlakukan secara adil ketika mempromosikan apa yang Kekristenan terus tawarkan kepada masyarakat kontemporer dan budaya. Dalam hal ini, kami mengundang semua orang Kristen untuk mempromosikan dialog otentik dengan Yudaisme, Islam dan agama-agama lain. Ketidakpedulian dan saling ketidaktahuan, hanya dapat menyebabkan ketidakpercayaan dan sayangnya bahkan konflik.

8. Dari kota suci ini Yerusalem, kami mengungkapkan keprihatinan yang mendalam bagi kita bersama untuk situasi umat Kristiani di Timur Tengah dan hak mereka untuk tetap menjadi warga penuh tanah air mereka. Dalam kepercayaan, kita beralih kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan penuh belas kasihan dalam doa bagi perdamaian di Tanah Suci dan di Timur Tengah pada umumnya. Kami terutama berdoa bagi Gereja-gereja di Mesir, Suriah, dan Irak, yang telah menderita paling menyedihkan karena peristiwa baru-baru ini. Kami mendorong semua pihak terlepas dari keyakinan agama mereka, untuk terus bekerja bagi rekonsiliasi dan untuk hanya pengakuan hak-hak masyarakat. Kami yakin bahwa itu bukan senjata, tapi dialog, pengampunan dan rekonsiliasi adalah satu-satunya cara yang mungkin untuk mencapai perdamaian.

9. Dalam konteks sejarah yang ditandai oleh kekerasan, ketidakpedulian dan egoisme, banyak pria dan wanita saat ini merasa bahwa mereka telah kehilangan arah mereka. Justru melalui kesaksian bersama kabar baik dari Injil, bahwa kita mungkin dapat membantu orang-orang waktu kita untuk menemukan kembali cara yang mengarah pada kebenaran, keadilan dan perdamaian. Persatuan dalam intensi kita, dan mengingat contoh, lima puluh tahun yang lalu di sini di Yerusalem, Paus Paulus VI dan Patriarkh Athenagoras, kami menyerukan kepada semua orang Kristen, bersama-sama dengan orang percaya dari setiap tradisi agama dan semua orang yang berkehendak baik , untuk mengakui urgensi jam yang memaksa kita untuk mencari rekonsiliasi dan persatuan umat manusia, sementara sepenuhnya menghormati perbedaan yang sah, untuk kebaikan seluruh umat manusia dan generasi mendatang.

10. Dalam melakukan ziarah berbagi ke situs, di mana kita satu sama Tuhan Yesus Kristus disalibkan, dimakamkan dan bangkit kembali, kita dengan rendah hati memuji dengan perantaraan orang kudus dan Maria yang selalu perawan dalam langkah masa depan kita di jalan menuju kepenuhan kesatuan, mempercayakan kepada kasih Tuhan yang tak terbatas kepada seluruh umat manusia.

"TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; 6:26 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera! " (Bil 6:25-26).


Yerusalem, 25 Mei 2014

Wednesday, June 4, 2014

Uskup Baru Keuskupan Agung Pontianak & Keuskupan Bandung


Uskup Baru Keuskupan Agung Pontianak

Pada tanggal 3 Mei 2014 tepat pukul 12:00 waktu Vatikan, 17.00 WIB, Paus Fransiskus telah menerima menerima pengunduran diri Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap berdasarkan aturan yang terdapat dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) Kanon 401 �1 "Uskup Diosesan yang sudah berusia genap tujuh puluh lima tahun, diminta untuk mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Paus, yang akan mengambil keputusan setelah mempertimbangkan segala keadaan." (KHK Kan.401). Pengunduran diri dari Mgr Bumbun, didasari oleh umur beliau yang telah menginjak usia 77 tahun, sejak beliau menerima tahbisan uskup pada 27 Mei 1976 dan telah memimpin Keuskupan Agung Pontianak sejak sejak 26 Februari 1977.

Bapa Suci menerima pengunduran Mgr Bumbun sebagai Uskup Agung Pontianak dan saat itu juga mengumumkan pengangkatan Uskup Sintang Mgr Agustinus Agus sebagai Uskup Agung Pontianak menggantikan Mgr Bumbun. Mgr Agus telah menggembalakan Keuskupan Sintang sejak ditunjuk pada 29 Oktober 1999; dan menerima tahbisan uskup pada 6 Februari 2000.

Berikut adalah biodata dari Mgr Agus:
Tempat dan tanggal lahir: Lintang, Kalimantan Barat, 22 Oktober 1949
Tahbisan Imam: Keuskupan Sanggau, Kalimantan Barat: 6 Juni 1977
Ditunjuk sebagai Uskup Sintang: Kalimantan Barat: 29 Oktober 1999
Tahbisan Uskup Sintang: 6 Februari 2000
Pentahbis Utama: Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja SJ
Pentahbis Pendamping: Nunsius Apostolik Indonesia XI yang bergelar Uskup Agung Tituler Botriana, Mgr Renzo Fratini dan Uskup Agung Pontianak, Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap
Diangkat Uskup Agung Pontianak: 3 Juni 2014

Dengan demikian, Mgr Bumbun pun bergelar Uskup Emeritus bagi Keuskupan Agung Pontianak dan Keuskupan Sintang pun lowong alias sede vacante hingga menunggu penunjukkan uskup baru disana.
                                           Uskup Baru Keuskupan Bandung

Setelah empat tahun menanti, akhirnya sukacita telah hadir ditengah-tengah umat Katolik di kota Bandung yang telah memiliki Uskup baru. RP.Dr.Antonius Subianto Bunyamin O.S.C telah ditunjuk oleh Paus Fransiskus untuk menggembalakan umat Katolik di kota Bandung sebagai Uskup Keuskupan Bandung yang baru. Penunjukkan Romo Anton sebagai Uskup Bandung telah mengakhiri masa lowong (sede vacante) Keuskupan Bandung, yang dahulu dipimpin oleh Mgr. Johannes Pujasumarta selama dua tahun (2008-2010), dan setelah Mgr. Johannes Pujasumarta ditingkatkan statusnya menjadi Uskup Agung Semarang oleh Paus Benediktus XVI. Selama takhta lowong, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo diberi tugas tambahan oleh Takhta Suci sebagai Administrator Apostolik Bandung. Uskup Bandung terpilih ini lahir di Bandung, Jawa Barat, 14 Februari 1968. Ia memulai menggeluati panggilan imamatnya di Seminari Menengah St Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Lalu ia bergabung dengan OSC dan menjalani formasi sebagai calon imam Salib Suci. 

Kaul kekal sebagai anggota OSC ia ikrarkan pada 28 Agustus 1994. Selang dua tahun, tepatnya 26 Juni 1996, ia menerima tahbisan imamat. Usai ditahbiskan, Pastor Anton diutus untuk studi Filsafat di Universitas Katolik Louvain, Belgia (1996-1999). Ia berhasil menyabet gelar Lisensiat dan pulang ke tanah air untuk mengajar di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung (1999-2003).

Sang Superior mengutusnya lagi untuk mendalami Ilmu Filsafat di Universitas Kepausan Lateran, Roma (2003-2007). Tahun 2007, Pastor Anton pulang dengan titel Doktor Filsafat dan diincar untuk memperkuat Universitas Katolik Parahyangan. Alhasil, ia kembali ke tanah air dan diserahi tugas sebagai Wakil Provinsial OSC (2007-2010). Meski demikian, ia tetap mengajar di Parahyangan.

Selain itu, Pastor Anton pun mengampu beberapa tanggung jawab penting lainnya, misal: Direktur Eksekutif Yayasan Salib Suci untuk sekolah-sekolah Katolik di Bandung (2008); Ketua Pengurus Yayasan Parahyangan (2009); Sekretaris Yayasan Marga Asah Talenta; dan Ketua Institusi Hukum Universitas Katolik Parahyangan (2009-2010). Di Keuskupan Bandung, ia dipercaya sebagai Sekretaris FORPITU (Forum Pimpinan Tarekat dan UNIO Keuskupan Bandung); anggota Dewan Konsultores dan Dewan Pastoral Keuskupan Bandung (2010); dan anggota dewan di APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) di Indonesia.

Berita pengangkatan dua Uskup baru Indonesia juga dilansir oleh news.va (situs berita resmi Vatikan) dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Spanyol:

Uskup Bandung: Vatican City - On June 3 , 2014, the Holy Father appointed Rev. Fr. Antonius Subianto Bunyamin, O.S.C., Prior Provincial of the Order of the Holy Cross in Bandung, as Bishop of Bandung.

Uskup Agung Pontianak: Il Santo Padre Francesco ha accettato la rinuncia al governo pastorale dell�arcidiocesi di Pontianak (Indonesia), presentata da S.E. Mons. Hieronymus Herculanus Bumbun, O.F.M. Cap., in conformit� al can. 401 � 1 del Codice di Diritto Canonico.

Il Papa ha nominato Arcivescovo Metropolita di Pontianak (Indonesia) S.E. Mons. Agustinus Agus, trasferendolo dalla sede episcopale di Sintang (Indonesia).
Dominus illuminatio mea!
Referensi dari berbagai sumber.

Thursday, May 15, 2014

Doa Sembilan Hari Kunjungan Paus Fransiskus Ke Yerusalem 2014



Mengenai ziarah Paus Fransiskus yang sudah dekat, muncullah inisiatif untuk mengusulkan memulai doa sembilan hari untuk bersiap sebelum kedatangan Paus.

Dari tanggal 14-22 Mei 2014, Gereja-gereja Kristen dan masyarakat Yerusalem akan mempersiapkan dan mendukung ziarah rohani serta pertemuan Paus Fransiskus dan Patriarkh Bartholomeus di Kota Suci pada tanggal 25 dan 26 Mei 2014 dengan sembilan hari berdoa. Pertemuan ini terbentuk lima puluh tahun setelah pertemuan bersejarah antara Paus Paulus VI dan Patriarkh Athenagoras di Yerusalem , yang menandai awal yang baru dan positif dalam hubungan antara Ortodoks dan Gereja Katolik .

Sembilan hari persiapan terdiri dari doa individual dan doa komunitas di lokasi suci, puasa, ibadah dan amal baik. Doa komunitas akan diselenggarakan pada gilirannya oleh Gereja-gereja yang berbeda di Kota Suci, dengan segenap komunitas Kristen lainnya diundang untuk bergabung.

Berikut adalah program doa persiapan selama sembilan hari yang dilakukan oleh masyarakat dan komunitas Kristen di Yerusalem (Tambahan dari Katolisitas Indonesia):

Rabu, 14 Mei, 2014
Hari didedikasikan untuk puasa
15.00 Doa penghormatan Salib Suci (doa individual (di Kapel Ortodoks Yunani di Golgota)
16.00 Doa Malam di Kapel Santo Mikael Orthodoks Ethiopia

Kamis, 15 Mei, 2014
Hari didedikasikan untuk adorasi Sakramen Mahakudus
15.00 Adorasi di gereja-gereja di mana Sakramen Mahakudus disimpan
18.00 Jalan Salib diikuti dengan adorasi di Patriarkat Katolik Armenia, stasiun salib nomor 4

Jumat, 16 Mei, 2014
Hari didedikasikan untuk doa komunitas Kristen demi persatuan.
Kunjungan ke anggota keluarga atau teman, bagi orang sakit yang membutuhkan
17.00 Doa Ekstraordinaria untuk persatuan di gereja Lutheran Sang Penebus

Sabtu, 17 Mei, 2014
Hari didedikasikan untuk puasa
15.00 Penghormatan Salib di Gereja Ortodoks Koptik Santa Elena di stasiun salib nomor 9
17.00 Doa Rosario yang disertai Misa di Gereja Katolik Suriah Santo Thomas.

Minggu, 18 Mei, 2014
Hari didedikasikan untuk adorasi Tubuh dan Darah Kudus Tuhan kita
15.00 Adorasi di Gereja Our Lady of the Kejang, stasiun salib nomor 4
18,45 Ibadat Vesper diikuti oleh Adorasi di Gereja Katolik Latin Juruselamat.

Senin, 19 Mei, 2014
Hari didedikasikan untuk doa komunitas Kristen demi persatuan
Kunjungan ke anggota keluarga atau teman, untuk orang sakit yang membutuhkan
18.00 Doa Ekstraordinaria untuk persatuan di Gereja Ortodoks Suriah Santo Markus

Selasa, 20 Mei, 2014
Hari didedikasikan untuk puasa
15.00 Ibadat Vesper di Katedral Armenia Santo Yakobus
18.00 Ibadat Vesper di Gereja Ortodoks Koptik Santo Antonius

Rabu, 21 Mei, 2014
Hari didedikasikan untuk adoras Tubuh dan Darah kudus Tuhan kita
15.00 Solemn Adorasi di Biara Gereja Maronit
18.00 Doa Malam dan Jalan Salib di katedral Anglikan Santo Georgius

Kamis, 22 Mei, 2014
Hari didedikasikan untuk doa komunitas Kristen demi persatuan.
17.00 Doa Ekstraordinaria untuk persatuan dan Rosario di Co-Katedral Patriarkat Latin
18.00 Misa di Patriarkat Katolik Yunani

Diterjemahkan dari situs resmi Paus Fransiskus di Tanah Suci 2014

Marilah kita juga turut berdoa bersama umat Kristiani di Yerusalem supaya pertemuan ini semakin menumbuhkan tunas-tunas muda yang menghantar kita pada Persatuan Gereja Universal. Amin.

�Bapa yang kudus, bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, ada di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga ada di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku, dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya di mana pun Aku berada mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, yakni mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka, dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.�
~ Yohanes 17: 20-26 

Ut Omnes Unum Sint! (Semoga mereka semua menjadi satu!)
Vivit Dominus in cuius conspectu sto (Allah hidup dan dihadirat-Nya aku berdiri)

Tuesday, April 29, 2014

Kanonisasi Paus Yohanes XXIII & Paus Yohanes Paulus II bagian II


Allah selalu memanggil manusia didalam kekudusan. �Menjadi kudus bukanlah keistimewaan beberapa orang namun panggilan bagi semua orang� demikianlah yang diungkapkan oleh Paus Fransiskus. Orang-orang yang telah menjaga kekudusan hidupnya dikukuhkan oleh Gereja sebagai saksi bahwa kesucian bukanlah suatu hal yang mustahil untuk di manifestasikan didalam hidup. Para kudus merupakan saksi dari semuanya itu. Bunda Gereja dengan sukacita menyambut dua putra agungnya yang semasa hidupnya telah duduk di Takhta St. Petrus dan kini diangkat menjadi santo: Yohanes XXIII & Yohanes Paulus II. Melihat begitu besarnya peran dua santo ini didalam hidup Gereja, dimana Paus Yohanes XXIII dalam karyanya yaitu Konsili Vatikan II dan Paus Yohanes Paulus II sebagai seorang yang mencoba menyebarkan pesan dari Konsili Vatikan II ditengah-tengah Gereja, dalam menyongsong Millenium III.

Berikut adalah sejarah hidup dari �Lolek� (panggilan sapaan masa kecil St. Yohanes Paulus II).
Karol Josef Wojtyla, beginilah nama asli dari sang santo, yang lahir pada 18 Mei 1920 di Wadowice, sebuah kota di sebelah barat daya Kota Krakow, Polandia. Ia dibaptis oleh Romo Franciszek Zak. Masa kecilnya dipenuhi dengan kedukaan yang mendalam. Ibunya yang bernama Emilia Kaczorowska meninggal saat usianya 8 tahun dan kakak tertuanya, Edmund Wojtyla meninggal pada saat ia berusia 12 tahun. Benih panggilannya mulai tumbuh saat ayahnya meninggal akibat serangan jantung. Waktu itu Lolek masih berusia 20 tahun. Sepeninggal ayahnya, saya semakin sadar akan jalan kebenaran. Saya yakin benar kalau Tuhan memanggil saya� urainya dalam sebuah memoir. Pengalaman unik pada masa kecil Lolek ialah ia pernah bekerja sebagai buruh penggalian batu. 

Hal lainnya yang merupakan memori mendebarkan dalam diri seorang Karol Wojtyla, yakni saat pihak Nazi Jerman mengejar-ngejar dan hendak menangkapnya. Sehingga ia memutuskan untuk mengungsi ke pastoran Keuskupan Agung Krakow hingga perang berakhir, inilah momen yang tepat bagi Wojtyla untuk memurnikan panggilannya.

Imannya sebagai Katolik semakin diuji manakalah kaum Nazi semakin gencarnya menjajah Polandia. Perang yang berkecamuk mengembleng pilihan kepada sebuah pilihan hidup khusus yakni menjadi seorang imam. Di sinilah ia merasakan dan memaknai panggilan hidup yang berasal dari Tuhan sendiri. Pada akhir musim gugur pada tahun 1942, Karol Wojtyla semakin sadar akan panggilan hidupnya untuk menjadi seorang imam, sehingga ia mulai belajar di seminari �bawah tanah� yang dicetus oleh Kardinal Adama Stefan Sapieha di Keuskupan Agung Krakow. Kemudian setelah menamatkan studinya di seminari tersebut, ia kemudia kembali studi teologi di Universitas Jaghellonica, Krakow dan ditahbiskan menjadi imam diosesan pada 1 November 1946 oleh Uskup Agung Krakow.

Kemudian Romo Karol ditahbiskan menjadi menjadi Uskup Agung Krakow oleh Paus Paulus VI. Mgr Karol merupakan salah seorang pemikir yang handal di Konsili Vatikan II sehingga cukup disegani oleh para Uskup yang hadir saat itu, karena keikutsertaannya pada Konsili Vatikan II, ia pun diangkat menjadi Kardinal. Saat Paus Yohanes Paulus I wafat; ia ikut serta dalam konklaf untuk memilih paus baru dan pilihan Tuhan jatuh padanya, sehingga Kardinal Karol menjadi Paus ke- 264 Gereja Katolik dengan nama Yohanes Paulus II.

Ensiklik pertama yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II adalah Redemptor Hominis pada 15 Maret 1979 dan yang terakhir ialah Ecclesia de Eucharistia pada 17 April 2003 dengan tujuan untuk menghidupkan kembali penyembahan terhadap Sakramen Ekaristi. Selama menjabat sebagai Paus, ia telah mengeluarkan 14 Ensiklik, 15 Nasihat Apostolik, 11 Konstitusi Apostolik, dan 45 Surat Apostolik. Selain itu tercatat, Yohanes Paulus II melakukan 482 kanonisasi dan memimpin 147 beatifikasi dari 1.338 beato-beata yang diangkatnya.

Selama menjadi Paus,  telah terjadi berbagai peristiwa yang menggemparkan dunia, salah satu diantaranya ialah pada tanggal 13 Mei 1981, ia hampir tewas akibat ditembak Mehmet Ali Agca dan memberikan teladan yang mencengangkan, saat ia menjenguk Ali Agca di penjara Rebibbia dan seusai berbincang-bincang dengannya, ia berkata �Ketika berbicara dengannya saya anggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya.�

Jejak Paus Yohanes Paulus II di Indonesia
Kebahagiaan besar menyelimuti hati umat Katolik Indonesia, yang 25 tahun lalu menjadi saksi hidup kehadiran Paus Yohanes Paulus II (YP II) di bumi Nusantara ini. Tepatnya 9-14 Oktober 1989. Begitu mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, YP II lansung mencium bumi Nusantara. Inilah tanda cinta, berkat dan penghormatannya kepada Indonesia.

YP II di Indonesia
Besarnya cinta YP II terhadap Indonesia mulai terbaca, sejak Bapa Suci itu mempersiapkan diri di Vatikan sebelum melawat ke Indonesia. Seorang imam Indonesia, yang saat itu terngah studi di Roma, RD Suratman Gito Wiratma dipanggil secara khusus. Bapa Suci memintannya untuk mengajari bahasa Indonesia yang akan dipakai dalam Liturgi Ekaristi selama di Indonesia. Menurut Romo Suratman, Paus menerimanya di studio Takhta Suci. �Saya mengajar liturgi ekaristi dalam bahasa Indonesia, prefasi, aklamasi, dan lain-lain, selama satu jam perhari. Saya mengajar hanya dua hari.�

Di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin 9 Oktober 1989, YP II disambut dengan upacara kenegaraan setelah turun dari pesawat Korean Airline yang menerbangkannya dari Seoul. Pada kesempatan pertama, YP II disambut oleh Presiden Soeharto di Istana Merdeka. Yang menarik, Bapa Suci memberikan souvenir berupa kotak kecil berisi Rosario kepada Ny. Tien Soeharto. Spontan Ibu Tien membukanya dan mengalungkan Rosario itu dilehernya selama pertemuan. Dalam pertemuan itu, Bapa Suci mengungkapkan kekagumannya akan falsafah Pancasila. Hal menarik dalam Pancasila menurut dia, adalah nilai toleransi sesama umat beragama.

Setelah itu, YP II memimpin Perayaan Ekaristi di Stadion Utama Senayan, Jakarta yang dihadiri sekitar 120 ribu umat Katolik dari Keuskupan Agung Jakarta, Bogor, Bandung, Lampung, Sumatra Selatan dan Kalimantan. Selama memimpin misa, Paus memakai bahasa Indonesia. Sementara, khotbah dalam bahasa Italia, diterjemahkan langsung oleh konselebran utamanya, Mgr Leo Soekoto SJ, Uskup Agung Jakarta. Dalam khotbahnya, Paus mengingatkan agar umat Katolik Indonesia menjadi putra-putri yang tangguh dan warga Indonesia sejati. �Dia juga menyerukan pentingnya kerukunan antar-umat beragama. (Dikutip dari tulisan Norben Syukur dengan beberapa pengubahan)

Memasuki awal tahun 2005, kesehatan Bapa Suci terus menurun dan pada akhirnya ia menghembuskan nafas yang terakhir 2 April 2005. Dunia merasakan kehilangan yang begitu mendalam, tak henti-hentinya umat Kristen dari seluruh dunia mendoakan Paus Yohanes Paulus II. Lapangan Santo Petrus menjadi penuh dengan pelayat dari penjuru dunia, yang masing-masing memiliki tujuan untuk melihat jasad Paus yang terakhir kalinya. Tak henti-hentinya massa yang berkumpul di lapangan karya Bernini tersebut meneriakkan �Santo subito! Santo subito! Santo subito!� agar sang Paus segera dinyatakan sebagai santo. Misa requiem dipimpin oleh Kardinal Joseph Ratzinger (Paus Emeritus Benediktus XVI). Dihadiri lebih dari 200 delegatus resmi, serta perwakilan dari semua agama besar di dunia. Pemakaman itu dihadiri langsung oleh 250.000 hingga 300.000 orang.


Tanda-tanda kekudusan dari Paus Yohanes Paulus II mulai menyerbak, salah satu diantaranya berkat perantaraan YP II, Sr Maria Pierre Simon sembuh dari penyakit Parkinson. Karena mukjizat ini, Paus Benedktus pun menandatangi dekrit yang diperlukan untuk beatifikasi dan menyebut YP II sebagai Venerabilis. Paus Yohanes Paulus II dinyatakan sebagai Beato pada 1 Mei 2011. Pada 5 Juli 2013, mukjizat terjadi pada Floribeth Mora Diaz dari kota San Jose Costa Rica, yang sembuh dari penyakit aneurisma celebral yang disebabkan oleh pelebaran dinding pembuluh arteri di otak, setelah berdoa lewat perantaraan YP II. Tidak sedikit orang yang menyebut Yohanes Paulus II, sebagai �Kristus� sendiri karena tindakannya yang benar-benar mencerminkan tindakan seorang Kristen, ia mengasihi begitu banyak orang dan bahkan ia mengampuni orang yang hampir membunuhnya. Sehingga melihat Paus Yohanes Paulus dinyatakan sebagai santo pada 27 April 2014, seakan membuat kita tidak perlu bertanya kembali.
Dominus illuminatio mea!

Sunday, April 27, 2014

Deklarasi Penggelaran Kudus kepada Paus Yohanes XXIII & Yohanes Paulus II


Bahasa Latin
Ad honorem Sanct� et Individu� Trinitatis,
ad exaltationem fidei catholic�
et vit� christian� incrementum,
auctoritate Domini nostri Iesu Christi,
beatorum Apostolorum Petri et Pauli ac Nostra,
matura deliberatione pr�habita
et divina ope s�pius implorata,
ac de plurimorum Fratrum Nostrorum consilio,

Beatos Ioannem XXIII et Ioannem Paulum II

Sanctos esse decernimus et definimus,
ac Sanctorum Catalogo adscribimus,
statuentes eos in universa Ecclesia
inter Sanctos pia devotione recoli debere.
In nomine Patris et Filii et Spiritus Sancti.
AMEN! AMEN! AMEN!

Bahasa Inggris
For the honor of the Blessed Trinity, the exaltation of the Catholic faith and the increase of the Christian life, by the authority of our Lord Jesus Christ, and of the Holy Apostles Peter and Paul, and our own, after due deliberation and frequent prayer for divine assistance, and having sought the counsel of many of our brother Bishops, we declare and define

Blessed John XXIII and John Paul II

to be Saints and we enroll them among the Saints, decreeing that they are to be venerated as such by the whole Church. In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.
AMEN! AMEN! AMEN!

Bahasa Indonesia
Demi menghormati Allah Tritunggal Mahakudus, untuk membangkitkan Iman Katolik dan meningkatkan hidup Kristiani, dengan otoritas Tuhan kita Yesus Kristus, dan Para Rasul kudus, Petrus dan Paulus, dan dengan selalu memohon pertolongan Tuhan dan mempertimbangkan pendapat saudara-saudara Kami, para Uskup, Kami menyatakan dan menetapkan

Beato Yohanes XXIII dan Yohanes Paulus II

sebagai Santo, dan Kami mencantumkan namanya di daftar para Orang Kudus, supaya di seluruh Gereja Universal, ia dihormati di antara para Orang Kudus. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

AMIN! AMIN! AMIN!

Sancte Johannes XXIII, ora pro nobis!
Sancte Johannes Pauli II, ora pro nobis!
Saint John XXIII, pray for us!
Saint John Paul II, pray for us!
Santo Yohanes XXIII, doakanlah kami!
Santo Yohanes Paulus II, doakanlah kami!

Dominus illuminatio mea!

Berita Katolik: Kanonisasi Paus Yohanes XXIII & Yohanes Paulus II Bagian I

Umat Gereja Universal dengan penuh gegap gempita, berkumpul pada hari ini di lapangan Santo Petrus, Vatikan (27/04/2014) yang bertepatan dengan hari Minggu Kerahiman Ilahi. Paus Fransiskus akan menyematkan gelar santo kepada dua pendahulunya yaitu, Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II. Maka secara khusus, blog Katolisitas Indonesia akan membagikan riwayat hidup singkat dari dua Paus yang kudus ini.


Paus Yohanes XXIII yang bernama asli Angelo Giuseppe Roncalli ini lahir di Sotto I�ll Monte, kota kecil di Provinsi Bergamo, Italia, 25 November 1881. Ia merupakan anak keempat dari 13 saudara, yang juga anak laki-laki pertama dari pasangan Giovanni Battista Roncalli dan Marianna Giulia Mazzolla. Sejak masa kecilnya, hatinya sudah jatuh cinta pada panggilan imamat sehingga dengan menjalani studinya untuk mengabdikan diri sebagai imam, ia lalu ditahbiskan sebagai Imam Keuskupan Bergamo pada 10 Agustus 1904. Ia berkarya sebagai Pastor Paroki Santa Maria di Monte Santo, Italia.

Pada 1925, Paus Pius XI mengangkatnya menjadi Uskup Agung TitulerAreopolis. Ia memilih motto obedientia et pax, ketaatan dan kedamaian. Berselang enam tahun, Roncalli resmi menjadi Delegatus Apostolik Bulgaria. Pada 1934, Roncalli diutus menjadi Delegatus Apostolik untuk Negara Turki dan Yunani dan pada saat yang sama pula, gelar episkopalnya diubah menjadi Uskup Agung Tituler Mesembria. Setelah Paus Pius XII wafat, Roncalli mengikuti konklaf. Pada saat konklaf berlangsung, Roncalli bukanlah kandidat yang dianggap kuat untuk menduduki Takhta Petrus. Namun realita berkata lain, Roncalli terpilih sebaga paus pada 28 Oktober 1958, saat berusia 77 tahun dan memilih nama Yohanes XXIII. Selama masa pontifikalnya, Paus Yohanes XXIII membentuk Komisi untuk Revisi Kitab Hukum Kanonik dan begitu dekat dengan umat. Sebagai Uskup Agung Roma, ia kerap melakukan kunjungan pastoral ke paroki-paroki yang ada di wilayah Keuskupan Agung Italia.

Jejak Yohanes XXIII di Nusantara
Vtikan menyambut Presiden RI pertama Soekarno pada Kamis pagi, 14 Mei 1959. Ia bersua dan berbincang dengan Paus Yohanes XXIII di ruang Clement VIII Pax V. Sebelumnya, Soekarno juga pernah berkunjung ke Vatikan menemui Paus Pius XII, pada 13 Juni 1956. Hubungan Paus Yohanes XXIII dengan Indonesia tak sampai di situ. Melalui Dekrit Quod Christus Adorandus, 3 Januari 1961, Paus Yohanes XXIII meresmikan pendirian Hirarki Episkopal Gereja Katolik di Indonesia. Peresmian Hirarki Episkopal ini merupakan pengakuan Takhta Suci terhadap Gereja Katolik Indonesia, karena telah mampu berdikari. 


Sejak saat itu, 20 vikariat apostolik dan tujuh prefektur apostolik ditingkat menjadi keuskupan yang mempunyai wewenang penuh mengatur penggembalaan di wilayahnya, ke dalam enam provinsi gerejani; Keuskupan Agung Medan, Jakarta, Semarang, Pontianak, Makassar, dan Ende. Pada kemudian hari, dimekarkan menjadi Keuskupan Agung Merauke (1966), Kupang (1989), Palembang (2003), dan Samarinda (2004). Nama asli dari Paus Yohanes XXIII, Angelo Giuseppe Roncalli juga diabadikan sebagai nama rumah retret di Salatiga, Jawa Tengah. Rumah Retret Roncalli ini berdiri pada 1968. Rumah retret ini dirintis Br Carlo Hillenaar FIC dan Br Joachim van der Linden FIC. Selain itu, nama paus ini juga diabadikan oleh Seminari Tinggi Interdiosesan �Beato Giovanni XXIII� Malang, Jawa Timur. Sejak 15 Agustus 1988, seminari tinggi ini menjadi interdiosesan, artinya menjadi tanggungjawab beberapa keuskupan: Surabaya, Denpasar dan Malang. Selain tiga keuskupan ini, beberapa keuskupan juga mengirim para calon imamnya untuk dididik di seminari ini. (Y. Prayogo).

Napak tilas Pontifikal
Beato Yohanes XXIII selama masa kepausannya tercatat telah menerbitkan 47 konstitusi apostolik, 14 Motu Proprio dan delapan ensiklik: Ad Petri Cathedram (1959), Sacerdotii Nostri Primordia, Grata Recordatio (1959), Princeps Pastorum (1959), Mater et Magistra (1961), Aeterna Dei Sapientia (1961), Paenitentiam Agere (1962), Pacem in Terris (1963) dan salah satu karya besarnya ialah Konsili Vatikan II. Secara tidak terduga, pada 1959 sekitar tiga bulan menjalani masa pontifikalnya, Paus Yohanes XXIII mencetuskan Konsili Vatikan II. Melalui Konsili Vatikan II, Santo Yohanes XXIII telah membuka jendela-jendela Gereja, agar dunia dapat melihat kebenaran yang terdapat didalam Gereja Katolik dan sebaliknya Gereja diajak keluar untuk berdialog dengan perkembangan zaman, aneka budaya, agama dan kemiskinan. Ada tiga sasaran yang mau dicapai melalui konsili ini, yakni pembaruan rohani dalam terang Injil, penyesuaian Gereja dengan masa sekarang (aggiornamento) serta menanggapi tantangan-tantangan zaman, dan pemulihan persekuan umat Kristen.

Konsili yang dicetus oleh Santo Yohanes XXIII ini, berlangsung dalam empat sesi persidangan. Sesi pertama digelar pada 11 Oktober � 8 Desember 1962. Sesi kedua pada 29 September � 4 Desember 1963. Sesi ketiga diadakan pada 14 September � 21 November 1964. Dan sesi terakhir digelar 14 September � 8 Desember 1965, yang menghasilkan 16 Dokumen: empat konstitusi, sembilan dekrit dan tiga deklarasi.


Santo Yohanes XXIII tidak mengikuti Konsili Vatikan dari awal hingga akhir karena ia wafat saat memasuki persiapan sidang kedua, 3 Juni 1963. Paus Yohanes XXIII wafat pada usia 81 tahun. Seperti perkiraan banyak orang sebelumnya, masa pontifikalnya amatlah singkat. Ia wafat karena kanker perut yang telah di rahasiakannya. Sebelum ia wafat, dalam beberapa penampilan ia sudah terlihat pucat. Sehari setelah setelah Yohanes XXIII wafat, Vaticanista John L. Allen Jr. menulis di Koran Italia Gazzeta del Popolo �Suatu hari nanti sebutan Bapa Suci bagi Yohanes XXIII tak hanya melekat sebagai gelar Paus, melainkan secara kanonik. Kita berharap, tak seorang pun akan merasa menuntut pembuktian suatu mukjizat yang dibutuhkan untuk kanonisasinya, seperti dilansir ncronline.org�.

Pembukaan proses beatifikasi Paus Yohanes XXIII didahului oleh persetujuan Vatikan atas mukjizat yang dialami Suster Caterina Capitani. Sr Caterina ialah seorang biarawati asal Italia berusia 22 tahun dan tergabung dalam Kongregasi Putri Kasih (PK), yang mendadak menderita sakit dibagian perut dan ulu hatinya. Dokter yang saat itu merawatnya telah memberi peringatan keras agar menjaga kondisi badan dan menyuruh dia beristirahat total. Namun, Sr Caterna justru semakin giat dalam karya kerasulan dan melayani orang sakit. Dua tahun kemudian, dokter menyatakan, pancreas dan limpanya tidak berfungsi baik, sehingga harus dilakukan operasi. Sr Caterina pun menjalani operasi dengan didampingi oleh gambar Paus Yohanes XXIII. Sembilan hari setelah operasi, kondisi Sr. Caterina membaik. Namun, selang beberapa hari kondisi kesehatannya malah memburuk. Pada saat-saat kritis itu, seorang suster yang merupakan rekan dari Sr Caterina membawakan relikwi Paus Yohanes XXIII berupa kain. Lalu, kain tersebut diletakkan di perut Sr Caterina. Pada suatu ketika, Sr Caterina merasakan ada sebuah tangan yang menjamah perutnya. Saat kesadarannya menurun, ia juga melihat sosok seperti Paus Yohanes XXIII berdiri dan tersenyum didekatnya. Setelah peristiwa itu, Sr Caterina dinyatakan sembuh total.

Melalui mukjizat yang dialami oleh Sr Caterina inilah proses beatifikasi Paus Yohanes XXIII dibuka. Pada 3 September 2000, Paus Yohanes Paulus II memberikan gelar beato kepada pendahulunya in. Setelah upacara beatifikasi, jenasah Paus Yohanes XXIII dipindahkan dari pemakaman di ruang bawah tanah Basilika St. Petrus ke makam baru yang juga berada dalam basilika besar ini.

Tiga belas tahun kemudian, Jumat 5 Juli 2013, Paus Fransiskus merestui kanonisasi Paus Yohanes XXIII, tanpa mukjizat. Bila didengar berita ini sangat mengherankan, karena pada umumnya, proses kanonisasi harus disertai denan mukjizat. Juru bicara Vatikan, Pater Federico Lombardi SJ mengatakan, kanonisasi paus ini berkaitan dengan peringatan 50 tahun Konsili Vatikan II dan kesucian paus ini juga �tidak diragukan lagi�. Maka Paus Fransiskus akan menggelar upacara kanonisasi pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 27 April 2014. Bersamaan dengan Paus Yohanes Paulus II.
Dominus illuminatio mea!

Tags