Latest News

Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts

Sunday, December 30, 2018

INDAHNYA TOLERANSI WARGA LERENG MERBABU SAAT NATAL



Indahnya Toleransi Warga Lereng Merbabu saat Natal
Perayaan Natal di lereng Gunung Merbabu tepatnya di Dusun Thekelan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang berlangsung berbeda dari yang lainnya.
Pagi hari puluhan umat Kristiani dari beberapa gereja di Dusun Thekelan melakukan ibadah bersama di GPdi Thekelan, Rabu (26/12/18).
Tak lama berselang, sekitar pukul 08.00, umat Islam dan Budha berbondong-bondong menuju sekitar gereja dan menunggu para umat kristiani.
Usai umat Kristiani melaksanakan ibadah, mereka berjajar di samping kanan dan kiri jalan. Perwakilan dari setiap umat pun memberikan sambutan, mengucapkan selamat natal dan memberikan doa bagi para umat kristiani.
“Selamat natal. Semoga memberi kedamaian lahir dan batin,” tutur Sukhadhamma Sukarmin, seorang perwakilan tokoh agama buddha.
Perwakilan tokoh agama islam pun demikian. Mewakili umat islam, Satiman mengucapkan selamat natal kepada para umat kristiani.
“Selamat Natal bagi umat Kristiani. Semoga Natal ini membawa berkah,” tuturnya.
Umat Kristiani pun membalas dengan senyuman dan ucapan doa-doa.
“Terimakasih, semoga Gusti memberkati,” jawabnya.
Isak tangis pun tak terbendung ketika mereka saling bersalaman dan memberi ucapan.
Seorang pendeta GPdI Thekelan, Pdt Petrus Sukiman menyambut positif ucapan Natal dari umat Islam dan Buddha.
Kehadiran umat Islam dan Buddha membuat para jemaat dapat beribadah dengan tenang dan tidak ada hal yang ditakutkan.
“Indonesia sebagai negara yang beragam suku, ras, dan agama, cara ini positif sekali,” ungkapnya.
Menurutnya, adanya toleransi antarumat yang ada di Thekelan, masyarakat dapat membangun desa bersama-sama tanpa ada perselisihan.
Dusun Thekelan juga dapat menjadi miniatur negara Indonesia yang beragam agama namun toleransi tetap terjaga.
“Mungkin di tempat lain tidak ada hal semacam ini. Ini perlu menjadi contoh bentuk toleransi bagi masyarakat lain,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Thekelan, Supriyo mengatakan, Dusun Thekelan berpenduduk sekitar 720 jiwa. Mereka menganut berbeda agama yang didominasi umat buddha.
“Satu rumah beda agama disini sudah biasa,” ungkapnya.
Meski berbeda, toleransi antar umat di Dusun Thekelan sangat terjaga.
Ucapan memberi selamat saat hari besar merupakan bentuk toleransi antar umat dalam rangka menjaga kerukunan warga Thekelan yang beragam agama.
Acara ini dilakukan oleh warga Thekelan tidak hanya saat Natal, namun setiap perayaan hari besar agama.
“Setiap hari besar, entah Natal, Waisak, Idul Fitri, kami selalu melakukan tradisi ini,” ungkapnya.
Menurutnya, meski berbeda keyakinan hubungan antar warga harus terus dijaga.
“Urusan kami sama Tuhan memang masing-masing, tapi urusan dengan sesama harus kita jaga,” tuturnya.
Toleransi di Dusun Thekelan tidak hanya ditunjukkan saat perayaan hari besar.
Saat ramadhan tiba, umat Islam juga mengundang umat non islam untuk berbuka bersama.
“Bahkan, ketika ada pengajian, yang mengaji tidak hanya satu umat saja. Semua ikut,” tambahnya.
Supriyo juga menanamkan tradisi tersebut kepada anak-anak Dusun Thekelan agar toleransi antar umat di Dusun Thekelan selalu terjaga.
“Kami tidak hanya menjalankan saja, tapi kami mengajari anak-anak generasi milenial karena era mereka berbeda dengan agar mereka menjaga toleransi,” katanya.
Sumber berita Indahnya Toleransi Warga Lereng Merbabu saat Natal : tribunjateng

https://www.berita168.com/indahnya-toleransi-warga-lereng-merbabu-saat-natal/

KISAH SOEKARNO SAAT BERIKAN KATA SAMBUTAN PERAYAAN NATAL DI JAKARTA



Kisah Soekarno Saat Berikan Kata Sambutan Perayaan Natal di Jakarta
Bung Karno pernah diundang menghadiri perayaan Natal di Jakarta.
Hampir semua orang Kristen yang tinggal di wilayah DKI Jakarta menghadiri perayaan Natal tersebut.
Di atas mimbar terpampang dengan jelas tema natal “YESUS ADALAH GEMBALA YANG BAIK”.
Nah, pada saat Bung Karno diminta maju ke depan untuk memberikan sambutan, beliau melihat dan membaca tema natal tadi, “Yesus adalah gembala yang baik”.
Kemudian Bung Karno berkata, “Itu salah!”.
Tentu saja semua orang yang hadir menjadi tegang dan bingung, karena dalam perayaan natal beliau berkata begitu.
Lalu Bung Karno melanjutkan kembali, “Yesus adalah gembala yang baik. Itu keliru! Yesus bukan gembala yang baik, tetapi Yesus adalah gembala yang terbaik!”.
Setelah mendengar pernyataan ini, spontan dan serempak semua hadirin memberikan tepuk tangan dengan gegap gempita dan meriah sekali.
Berita ini dikutip dari FP FB Father of Nation: The Curious Case of Soekarno.
Ada juga foto Soekarno saat memberikan kata sambutan dalam perayaan Natal tahun 1947 di Yogyakarta :

Presiden soekarno saat berpidato di perayaan Natal Tahun 1947 di Yogyakarta
Dalam kapasitasnya sebagai kepala negara bagi semua penganut agama, Presiden Soekarno menghadiri perayaan Natal 1947 di Yogyakarta dan menyampaikan pidato di depan umat.
 Sumber berita Kisah Soekarno Saat Berikan Kata Sambutan Perayaan Natal di Jakarta : Father of Nation: The Curious Case of Soekarno

Sunday, December 23, 2018

Dolores Hart di cium untuk pertama kalinya oleh seorang pria dalam usia 18 tahun.


Dolores Hart, Gadis Yang Menolak Elvis Presley

Dolores Hart di cium untuk pertama kalinya oleh seorang pria dalam usia 18 tahun.

Bukan dicium oleh sembarang pria, melainkan oleh Elvis Presley.

Pada saat itu, ia turut berperan dalam film Loving You bersama dengan Elvis.

Setelah adegan ciuman tersebut, Elvis ngebet banget dan jatuh cinta abis kepada Dolores.

Sehingga Elvis mengajak Dolores untuk turut main film lagi dalam film berikutnya, King Creole.

Elvis juga pernah mencoba merayunya, agar dia bersedia menjadi istrinya, tetapi Dolores menolak.

Bukan hanya sekali itu saja Dolores beradu peran dalam film, dengan pria-pria papan atas yang hebat-hebat.

Dia pernah berakting bersama Robert Wagner, George Hamilton, maupun Montgomery Clift , tetapi tidak ada satupun yang bisa membuat dia tertarik.

Pada tahun 1961, ia turut bermain dalam film Francis of Assisi.

Di situ ia memerankan Santa Klara dari Asisi, putri seorang bangsawan yang kaya raya, tetapi memilih untuk hidup dalam kemiskinan dan mengabdikan dirinya untuk jadi pengikut Santo Fransiskus Asisi.

Pada saat pembuatan film tersebut di Roma, Dolores bertemu dengan Paus Yohanes XXII.

Di situ ia memperkenalkan dirinya kepada Paus, “Saya adalah Dolores yang memerankan Klara”.

Paus menjawab dengan lembut dalam bahasa Itali : “Tu sei Chiara” = Tidak, Anda adalah Klara.

Ucapan dari Paus tersebut mempengaruhi dirinya sedemikian rupa, seakan-akan ia mendapat panggilan untuk mengabdikan dirinya buat Tuhan.

Oleh sebab itulah ia memilih judul "The Ear of the Heart, An Actress’ Journey From Hollywood to Holy Vows" sebagai judul dari otobiographinya.

Dua tahun kemudian, setelah ia merampungkan film terakhirnya, “Come Fly With Me”, dalam usia 24 tahun ia meninggalkan kariernya sebagai bintang film.

Ia memilih untuk menjadi biarawati dan hidup dalam kesederhanaan.

Bahkan penawaran terakhir yang ia dapatkan untuk menjadi partner dalam film bersama Marlon Brando, ditolaknya.

Pada saat itu Dolores Hart merupakan pemain film dengan honor tertinggi.

Maka tidaklah heran apabila Dolores Hart sering disamakan dengan Grace Kelly.

Bukan saja dari segi kecantikkannya, tetapi juga kepiawaiannya dalam bermain film.

Grace Kelly meninggalkan dunia perfilman untuk menjadi ratu di Monaco, sedangkan Dolores mengabdikan dirinya menjadi biarawati.

Dengan menjadi seorang biarawati, Dolores memilih bukannya untuk dilayani melainkan untuk melayani dan hidup dalam penuh kesederhanaan.

Di tahun 1970 ia melakukan sumpahnya yang terakhir (kaul kekal) untuk menjadi suster dengan nama Mother Dolores.

Hingga kini ia masih sering ditanya kenapa ia memilih Tuhan daripada Elvis ?

Ia menjawab ringan, "God is bigger than Elvis.”

Untuk ini telah dibuatkan film dokumenter mengenai Mother Dolores dengan judul tersebut diatas.

Film ini pernah dinominasikan sebagai pemenang Oscar.

Di samping itu masih saja banyak orang yang tetap penasaran untuk mengetahui bagaimana rasanya dicium untuk pertama kalinya oleh Elvis ?

Ia menjawab, "Itu hanya pengalaman tidak lebih dari 15 detik saja dari kehidupan saya, jadi tidak ada istimewanya yang perlu dikenang."

Dolores Hart yang memilih untuk menjadi mempelai Kristus daripada mempelai Elvis.

Sungguh luar biasa....👍👍
Jesus Blessed You🙏🙏 Bro n Sis n Family

Tags