Latest News

Showing posts with label Maria Berdukacita. Show all posts
Showing posts with label Maria Berdukacita. Show all posts

Tuesday, February 13, 2018

Santa Parawan Maria Berduka Cita

Kapan pesta ini diperingati?
Pesta ini diperingati/ dikenangkan oleh Gereja setiap tanggal 15 September.  

Dimana pesta ini mulai?
Pesta ini mulai di Jerman dan kemudian disebarluaskan oleh Paus Benediktus XIII pada tahun 1721 dengan memasukkannya dalam penanggalan liturgi Romawi. 

Mengapa Maria disebut Bunda Berdukacita?
Maria disebut Bunda Berdukacita karena sepanjang perjalanan hidupnya bersama Yesus, Puteranya dalam karya agung penyelamatan umat manusia, Maria mengalami banyak penderitaan dan dukacita. Ia menyertai Yesus hingga akhir hayat-Nya. Oleh karena itu Gereja menamai Maria, Bunda Berdukacita (�Mater Dolorosa�). 

Manakah peristiwa-peristiwa yang menunjukkan kedukaan Maria? 
Seluruh penderitaan Maria diringkas oleh Gereja dalam 7 jenis kedukaan yang diambil dari 7 peristiwa berikut: 
  1. Kedukaan sewaktu Simeon meramalkan apa yang akan terjadi atas diri Yesus, Anaknya sewaktu ia dan Yusuf mempersembahkan Yesus di Bait Allah. 
  2. Kedukaan sewaktu pengungsian ke Mesir. 
  3. Kedukaan sewaktu ia bersama Yusuf mencari Yesus di Yerusalem. 
  4. Kedukaan sewaktu bertemu dengan Yesus di jalan salib menuju puncak Kalvari. 
  5. Kedukaan sewaktu menyak-sikan Yesus disalibkan dan wafat. 
  6. Kedukaan sewaktu jenazah Yesus dibaringkan di pangkuannya. 
  7. Kedukaan sewaktu Yesus dimakamkan. 

Mengapa Maria sanggup menanggung semua kedukaan itu?
Maria sanggup menanggung semua penderitaan itu dengan tabah  karena  iman.  Ia telah mengatakan dengan bebas kepada Malaekat Allah: �Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-mu itu�. Ia setia menanggung segala resiko atas jawaban �ya� pada kehendak Allah.
Apa makna/pesan bagi kita?
  1. Dengan meneladani Bunda Maria Berdukacita, semoga kita pun dapat mempersatukan segala penderitaan kita dengan sengsara Kristus, serta menghadapinya dengan tabah, penuh kasih dan iman.
  2. Kita yang menjadi murid-murid Yesus dituntut untuk menyadari realitas iman dengan belajar pada Bunda Maria. Tetap tabah dan tekun memanggul salib dan pen-deritaan kita setiap hari.
Salib, penderitaan dan dukacita  adalah sesuatu yang dasariah dalam penghayatan iman kita akan  Yesus, sebagai sarana pemurnian iman kita. Sebab melalui penderitaan dan salib itu, seperti yang telah diajarkan dan dilaksanakan oleh Yesus, kita akan mencapai kejayaan dan kemenangan.
~P. Yulius Tangke Bandaso, SX
Sumber: https://santopauluspku.wordpress.com/2014/09/15/santa-parawan-maria-berduka-cita/

Monday, September 14, 2015

Santa Perawan Maria Berdukacita

oleh: P. William P. Saunders

Pada bulan September kita memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Dapatkah dijelaskan makna dan asal-mula peringatan ini?
~ seorang pembaca di Fairfax

Gelar �Bunda Dukacita� diberikan kepada Bunda Maria dengan menitikberatkan pada sengsara dan dukacitanya yang luar biasa selama sengsara dan wafat Kristus. Menurut tradisi, sengsara Bunda Maria ini tidak terbatas hanya pada peristiwa-peristiwa sengsara dan wafat Kristus; melainkan meliputi �tujuh dukacita� Maria, seperti yang dinubuatkan Nabi Simeon yang memaklumkannya kepada Maria, �Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan - dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.� (Lukas 2:34-35). Tujuh Dukacita Bunda Maria meliputi Nubuat Simeon, Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan Diketemukan di Bait Allah; Bunda Maria Berjumpa dengan Yesus dalam Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri di kaki Salib ketika Yesus Disalibkan; Bunda Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia Diturunkan dari Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan.

Secara keseluruhan, nubuat Simeon bahwa sebilah pedang akan menembus hati Bunda Maria digenapi dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, Bunda Maria terkadang dilukiskan dengan hatinya terbuka dengan tujuh pedang menembusinya. Dan yang terpenting ialah bahwa setiap dukacita diterima Bunda Maria dengan gagah berani, dengan penuh kasih, dan dengan penuh kepercayaan, seperti digemakan dalam Fiat-nya, �jadilah padaku menurut perkataan Tuhan,� yang diucapkannya pertama kali dalam peristiwa Kabar Sukacita.

Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita mulai populer pada abad keduabelas, meskipun dalam berbagai gelar yang berbeda. Beberapa tulisan didapati berasal dari abad kesebelas, teristimewa di kalangan para biarawan Benediktin. Pada abad keempatbelas dan kelimabelas, peringatan dan devosi ini telah tersebar luas di kalangan Gereja.

Yang menarik, pada tahun 1482, peringatan ini secara resmi dimasukkan dalam Misale Romawi dengan gelar �Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan,� (Our Lady of Compassion) dengan menekankan besarnya cinta kasih Bunda Maria yang diperlihatkannya dalam sengsara bersama Putranya. Kata `compassion' berasal dari kata Latin `cum' dan `patior' yang artinya �menderita bersama�. Dukacita Bunda Maria melampaui dukacita siapa pun oleh sebab ia adalah Bunda Yesus, yang bukan hanya Putranya, melainkan juga Tuhan dan Juruselamatnya; Bunda Maria sungguh menderita bersama Putranya. Pada tahun 1727, Paus Benediktus XIII memasukkan Peringatan Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan dalam Penanggalan Romawi, yang jatuh pada hari Jumat sebelum Hari Minggu Palma. Peringatan ini kemudian ditiadakan dengan revisi penanggalan yang diterbitkan dalam Misale Romawi tahun 1969.

Pada tahun 1668, peringatan guna menghormati Tujuh Dukacita Maria ditetapkan pada hari Minggu setelah tanggal 14 September, yaitu Pesta Salib Suci. Peringatan ini kemudian disisipkan dalam penanggalan Romawi pada tahun 1814, dan Paus Pius X menetapkan tanggal yang permanen, yaitu tanggal 15 September sebagai Peringatan Tujuh Duka Santa Perawan Maria (yang sekarang disederhanakan menjadi Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita). Penekanan utamanya di sini adalah Bunda Maria yang berdiri dengan setia di kaki salib di mana Putranya meregang nyawa; seperti dicatat dalam Injil St. Yohanes, �Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: `Ibu, inilah, anakmu!' Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: `Inilah ibumu!'� (Yohanes 19:26-27). Konsili Vatikan Kedua dalam Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja menulis, ��ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.� (#58).

St. Bernardus (wafat tahun 1153) menulis, �Sungguh, ya Bunda Maria, sebilah pedang telah menembus hatimu�. Ia wafat secara jasmani oleh karena kasih yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipahami manusia. Bunda-Nya wafat secara rohani oleh karena kasih seperti yang tak dapat dibandingkan selain dengan kasih-Nya.� (De duodecim praerogatativs BVM).

Dengan menekankan belas kasihan Bunda Maria, Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II, mengingatkan umat beriman, �Bunda Maria yang Tersuci senantiasa menjadi penghibur yang penuh kasih bagi mereka yang mengalami berbagai penderitaan, baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa umat manusia. Ia memahami segala sengsara dan derita kita, sebab ia sendiri juga menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. 'Dan jiwa mereka pula akan ditembusi sebilah pedang.' Bunda Maria adalah Bunda Rohani kita, dan seorang ibunda senantiasa memahami anak-anaknya serta menghibur dalam penderitaan mereka. Dengan demikian, Bunda Maria mengemban suatu misi istimewa untuk mencintai kita, misi yang diterimanya dari Yesus yang tergantung di Salib, untuk mencintai kita selalu dan senantiasa, dan untuk menyelamatkan kita! Lebih dari segalanya, Bunda Maria menghibur kita dengan menunjuk pada Dia Yang Tersalib dan Firdaus!� (1980).

Oleh sebab itu, sementara kita menghormati Bunda Maria, Bunda Dukacita, kita juga menghormatinya sebagai murid yang setia dan teladan kaum beriman. Marilah kita berdoa seperti yang didaraskan dalam doa pembukaan Misa merayakan peringatan ini: �Bapa, sementara PutraMu ditinggikan di atas salib, Bunda-Nya Maria berdiri di bawah kaki salib-Nya, menanggung sengsara bersama-Nya. Semoga Gereja-Mu dipersatukan dengan Kristus dalam Sengsara dan Wafat-Nya, sehingga beroleh bagian dalam kebangkitan-Nya menuju hidup baru.� Dengan meneladani Bunda Maria, semoga kita pun dapat mempersatukan segala penderitaan kita dengan sengsara Kristus, serta menghadapinya dengan gagah berani, penuh kasih dan kepercayaan.

sumber : �Straight Answers: Mother of Sorrows� by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright �2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: �diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.�

Tags